Untuk dapat memahami bagaimana keunggulan Rumah santri Kreatif Asy Syifa baiknya disimak 7 pertanyaan  berikut ini:

7 Pertanyaan mengapa memilih sekolah

di Rumah Santri Kreatif Asy-Syifa’

Pertama : “Mengapa Para orang tua memilih Rumah santri kreatif asy-syifa’ sebagai tempat pendidikan anak-anak mereka..?”.

Jawabannya sederhana:

  1. Para orang tua ingin anak-anak kesayangan mereka terkontrol dalam pergaualan mereka.

Sudah menjadi isu nasional setiap tempat dan daerah apalagi dikota-kota besar, rusaknya pergaulan generasi muda sangat memprihatinkan, narkoba yang selalu mengintai mereka, pornografi dan pornoaksi yang menjadi jurang yang dapat menjerumuskan masa depan mereka, apalagi sekarang sedang berkembang isu pemerkosaan sadis muncul dimana-mana, muniman keras, tawuran, LGBT, dan ribuan masalah penyakit yang bersebaran ditengah-tengah kehidupan masyarakat mengintai dan mengincar sosok anak-anak yang masih remaja mencari jati diri, tentu membutuhkan arahan dan bimbingan yang benar buat mereka. Sementara kesibukan para orang tua tentu tidak memungkinkan mereka selama 24 jam mengawasi anak-anak mereka.

Di rumah santri kreatif Asy-syifa’ mereka di asramakan, yang sudah jelas pergaulan mereka dibatasi dengan komunitas sesama santri dan para ustadz serta sivitas akademis rumah santri saja, sehingga dengan sendirinya akan terbentengi dari hal-hal yang negatif diluar. Dengan membentuk komunitas sendiri dengan hanya  sesama santri ditambah guru dan aktivis rumah santri di dalamnya. tentu anak remaja yang baru tumbuh ini akan ikut arus komunitas pergaulannya, karena perlu kita fahami, sebagian besar pengaruh pada diri remaja itu berasal dari lingkungan dan teman-temannya.

Nah.. komunitas ini diarahkan dengan sistem yang sudah teruji di pesantren-pesantren dengan membuat jadwal dan aktivitas keseharian yang padat dengan  kegiatan positif dan membiasakan hidup disiplin dalam menjaga ibadah harian; seperti shalat berjamaah, shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, qiraat Quran, hafalan Quran, berbahasa dengan bahasa Arab atau Inggris, saling menasehati antara sesama mukmin dan lainnya sebagai bentuk amalan dari ilmu syar’i yang dipelajari langsung dipraktekkan dalam komunitas kecil mereka.

Tentunya hal ini jika dilakukan terus menerus dan terkontrol dalam kehidupan mereka akan menjadi kebiasaan, sehingga diharapkan akan tumbuh suatu mental dan jati diri seorang mukmin yang siap menghadapi persoalan-persoalan masyarakat yang ditakuti sebelumnya

Kedua : “Tapi mengapa jumalahnya sangat di batasi…? bukankah dengan sedikit akan  membosankan mereka…”

Nah.. justru disini kelebihannya, persoalan jumlah ini merupakan kunci dari kemampuan pengawasan dan pengontrolan perkembangan, karena sudah menjadi rahasia umum, apalagi bagi mereka yang pernah hidup diasrama dalam jumlah yang ratusan bahkan ribuan, beberapa tekanan fisikologis akan dialami saat tahun-tahun pertama mereka diasrama, bahkan tidak sedikit diantara mereka mundur menangis, mengadu keorang tua karena tidak sanggup hidup diasrama, yang dianggap bagi mereka kehidupan yang keras.

Sementara di rumah santri kreatif asy-syifa’ karena jumlah peserta didik sangat dibatasi agar setiap pengawas dapat mengawasi dan mengontrol lebih maksimal, karena prilaku masing-masing anak akan terawasi, perkembangannya akan terkontrol, pengawas asrama akan seperti bapak dan anak bersama mereka, karena semua pasti akan dekat dengan mereka.

Jika terjadi sedikit saja keanehan pada prilaku santri akan cepat ketahuan. Jadi jumlah  sedikit santri ini adalah merupakan metode unggulan rumah santri dalam mempersiapkan peserta didiknya agar lebih terawasi dan bakat minat mereka dapat terkontrol sehingga lebih cepat mengarahkan mereka.

Masalah membosankan atau tidak tentu saja itu relatif, jika banyak kegiatan yang positif, bahkan kegiatan itu berpindah-pindah diberbagai tempat yang menyenangkan seperti kemping di alam bebas yang sudah menjadi program rumah santri..

waahh.. kayaknya mereka gak bakalan bosan, lagian mereka merasa di rumah sendiri namun ada waktu-waktu tertentu yang mereka bersilaturrahmi dan saling berbagi dengan komunitas santri lainnya. Ya insyaallah anak akan betahlah.

Ketiga : “Bagaimana cara pendidikan yang dilakukan di rumah santri ini…?”

Rumah santri kreatif ini didirikan bukan hanya sekedar mendirikan sekolah ataupun lembaga pendidikan sebagaimana yang sudah ada, karena jika begitu adanya, kami rasa lembaga pendidikan sudah banyak dengan fasilitas yang sangat memadai. Namun kami melihat ada beberapa kelemahan dalam sistem pendidikan kita sekarang:

  1. Mata pelajaran yang terlalu banyak, sehingga membuat peserta didik terlalu terbebani dengan pelajaran-pelajaran yang belum tentu mereka sukai dan dibutuhkan sesuai dengan minat mereka.
  2. Menyamaratakan semua anak dengan pelajaran yang sama, padahal tingkat kecerdasan intelengsi dan minat peserta didik tidaklah sama, sehingga banyak minat-minat dari mereka yang potensial tidak tergodok dengan baik.
  3. Pelajaran yang mengambang yang tidak mengarah kepada spesifik bakat dan minat peserta didik.
  4. Sistem dan pola pengajar yang tekstual dan terlalu teoritis sehingga menyulitkan peserta memahami pokok masalah yang dibahas.
  5. Kurangnya perhatian kepada Bahasa sebagai kunci dari ilmu, jarang anak-anak sekolah mampu berbahasa asing kalau mereka tidak kursus.

Untuk menjawab semua ini sebagian masyarakat kalangan elit mencoba dengan membuat homeschooling dengan memanggil guru kerumah mereka, dan anak-anak mereka mendapat pelajaran secara santai dan menyenangkan dengan sistem private, tentu saja hal ini membuahkan hasil dalam ilmu pengetahuan, namun dalam sosial kemasyarakatan dan kebiasaan hidup mereka akan tergantung dari kebiasaan rumah orang tuanya, jika orang tua sianak punya cukup waktu dalam membiasakan mereka dengan pola hidup yang sehat sesuai keinginan orang tua, insyallah akan memberikan hasil yang baik, namun jarang orang tua bisa menyediakan waktu mereka, karena tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga membutuhkan waktu bahkan kebanyakan tidak punya banyak waktu.

Disinilah rumah santri mengambil peran, menggunakan pola homeschoolling, yaitu dengan memprivatekan sianak dengan guru-guru profesional dibidang mereka, memberikan pelajaran-pelajaran yang mereka butuhkan sesuai dengan bakat mereka, langsung mengarah kepada karir dan minat mereka, menggunakan sistem yang harus menyenangkan bagi mereka dan ini bisa di lakukan karena jumlah yang sedikit sehingga perkembangan dan daya tarik psikologis mereka akan dapat diketahui, dan membiasakan mereka hidup dalam pola pesantren, membiasakan mereka berkomunikasi dengan bahasa arab dan inggris dalam keseharian mereka, sehingga dengan sistem ini perkembangan ilmu dan bakat mereka akan terpicu dengan cepat langsung mengarah kepada skill yang mereka butuhkan dan tentunya mereka berminat di dalamnya.

Adapun mata pelajaran akan disaring sesuai kebutuhan dan bakat sianak, pelajaran-pelajaran yang bersifat wawasan yang bisa di dapat lewat membaca akan didorong mereka untuk suka membaca, pelajaran-pelajaran yang bersifat teoritis diajarkan dengan sistem terpola sampai mereka menguasai dengan baik, pelajaran-pelajaran yang bersifat aplikatif harus disertai praktek langsung sehingga pelajaran itu langsung dapat terserap dengan baik. Semua pelajaran ini di backup dengan sistem komunitas belajar yang biasa dikenal oleh kita sistem belajar kelompok, hal ini agar  mereka lebih maksimal dalam menggali pelajaran yang mereka kurang faham dengan teman-teman mereka di rumah santri. Hanya bedanya pelajaran kelompok mereka diarahkan dan diawasi oleh pengawas asrama dan guru mereka.

Ke Empat : “Bagaimana dengan pendidikan Agama mereka bukannya ini pesantren…?”

Ya… Pada dasar Rumah Santri Kreatif adalah pesantren yang di perkecil menjadi rumah santri, namun dalam pemberian ilmu-ilmu syariat pun kami memberikan pola yang sedikit berbeda dengan pesantren yang ada pada umumnya, kami memberikan pelajaran ilmu-ilmu agama di bagi dalam beberapa bentuk:

  1. Memberikan ilmu bahasa Arab sebagai kunci ilmu agama dalam bentuk percakapan: ini akan diserap dalam tahun pertama, dan alhamdulillah sudah ada hasil dalam satu tahun santri sudah terbiasa dengan bahasa arab dalam keseharian mereka, sehingga minat mereka terhadap bahasa Arab menjadi kuat. Ini adalah dasar pertama.
  2. Memberikan pelajaran qiraatul kutub yaitu pelajaran membaca kita kuning pada tahun berikutnya, hal ini seiring dengan pajaran nahu & sharaf dalam praktek dan teori, sehingga santri akan langsung dapat meresapi fungsi dan kedudukan kalimat yang ada pada ilmu nahu dan akan lebih menguasai perubahan kata dalam ilmu sharaf. Jadi berbeda dengan pola pesantren klasik yang memberikan pelajaran ini secara terpisah. Sehingga membutuhkan waktu yang lama bagi santri untuk memhami metode membaca kitab kuning ini.
  3. Pelajaran membaca kitab kuning ini sekaligus menterjemah, karena membaca kitab kuning itu mesti sejalan dengan menterjemah, karena dari berbagai pengalaman tidak setiap mereka yang bisa membaca kitab kuning mampu menterjemah. Tiga metode ini (ponit a,b dan c) secara berkelanjutan yang disesuaikan dengan perkembangan sianak akan dirasa lebih efektif apabila diajarkan dengan sistem dan pola yang benar. Bi iznillah
  4. Memberikan pelajaran-pelajaran ilmu-ilmu alat dalam memahami Quran dan sunnah sebagai pondasi dasar: seperti ilmu ushul fiqh, ilmu hadits, ilmu tafsir. Berbeda dengan pesantren pada umumnya mereka memberikan pelajaran ilmu alat ini langsung dari kitab aslinya dan ada juga yang sudah disusun dalam bahasa arab untuk berbagai tingkatan, namun karena dalam bahasa arab santri lebih terfokus kepada menterjemah bukunya bukan inti pelajarannya, kemudian kebanyak pesantren mengajarkan ilmu-ilmu ini pada tingkat akhir, karena dirasa berat untuk kalangan stanawiyah, kalaupun ada tidak terlalu difokuskan.

Namun di Rumah santri kreatif ilmu-ilmu alat ini merupakan kunci kekuatan memahami ilmu-ilmu syar’i oleh karena itu pelajaran-pelajaran ini dikemas dalam bentuk yang lebih mudah difahami semenjak awal. Sehingga pendalaman materi untuk selanjutnya akan lebih mudah. Dan sistem yang digunakan sistem menyederhanakan materi beserta contoh-contoh penggunaan dan penerapan, sehingga santri akan menguasai dengan baik materi-materi yang diberikan.

  1. Memprioritaskan dan menekankan pada hafalan Quran dan hadits diawal-awal yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing santri. Rumah santri membuat sistem yang menjadikan komunitas santri terdorong untuk menghafal Quran.

Ke Lima : “Terus dimana letak kreatifnya..? bukannya kreatif itu menunjukkan kepada bidang IT atau skill tertentu gitu…

Yaa…. Rumah santri kreatif ini didirikan atas dasar keprihatinan terhadap dunia lapangan kerja dan perkembangan dunia usaha, apalagi pesantren yang memberi kesan seakan kalau tamatan pesantren hanya jadi pemuka masyarakat ataupun penceramah.

Justru rumah santri kreatif asy-syifa ini memberikan pelajaran IT dibidang cyber kepada santri secara lebih intensif dan terarah. Intensinya karena mereka diberikan bebas menggunakan komputer sesuka mereka, karena mereka memiliki komputer satu-persatu, terarah yang dimaksud mereka diberikan pejaran-pelajaran ilmu komputer yang berkaitan langsung dengan dunia usaha dan industri, seperti aplikasi photoshop, CorelDraw, editing video, web disegne, web programer, internet maketing dll.

Disamping itu mereka juga diberikan pengalaman dan praktek dibidang industri kue, konveksi, servis berbagai elektronik, servis motor, las, bubut dan perbengkelan yang semua pelajaran ini berpola praktek dilapangan, rumah santri bekerja sama dengan pengusaha-pengusaha yang ada di dekat lokasi rumah santri. Namun rumah santri juga memberikan ilmu bisnis marketing kepada santri, sehingga mereka tidak hanya mendapat pengalaman dari pelaku usaha saja namun mereka punya kemampuan untuk mengembangkan karena belajar bisnis marketing.

Ke Enam : “wah.. banyak sekali pelajarannya apa itu tidak membuat santri pusing…??

Hehehehe….. tidaklah.. malah mereka menikmati pengalaman-pengalaman berharga mereka, karena pola pengajaran yang bersifat pratek tidaklah membutuhkan waktu yang lama seperti halnya teori, contoh mudah, santri belajar berenang tidak perlu lokal buat kelas renang, yang dibutuhkan adalah kolam renang buat mereka terjun dan pelatih yang mengarahkan mereka cara berenang.

Dan rumah santri telah membuktikan hal ini bagi santri belajar langsung praktek hal-hal yang bersifat aplikatif terserap lebih cepat dari yang kita duga. Mereka bak ember kosong dituangi air langsung nampung dan siap pakai.

Ke Tujuh : “Lalu bagaimana dengan bersosialisasi dengan masyarakat apa mereka diajarkan juga … ?

ya.. para santri di rumah santri asy-syifa di latih dan di arahkan untuk dapat peduli dan mau bersosialisasi kedalam masyarakat, mereka diberikan waktu-waktu tertentu untuk bertemu dan bertatap muka dengan masyarakat dengan kegiatan-kegiatan positif, seperti bakti sosial, acara-acara keagamaan, dan berbagai bentuk pengabdian sosial kemasyakatan yang sudah terprogram di rumah santri kreatif asy-syifa’.