Skip to main content

Hidup Ideal Ala Rasulullah

Hidup Ideal Ala Rasulullah

HIDUP sehat tentu menjadi hal yang senantiasa diidam-idamkan oleh setiap orang. Dengan hidup sehat tentunya banyak kegiatan positif yang dapat kita kerjakan. Untuk itu banyak dari kita menerapkan pola hidup sehat dengan mengatur pola makan seperti, mengkonsumsi suplemen kesehatan, dan berolahraga.

Namun, ternyata Rasulullah SAW memiliki pola hidup sehat yang patut kita teladani. Salah satu gaya hidup sehat ala Rasulullah SAW yang dapat ditiru adalah soal pola makannya.

Menurut para ahli kesehatan, pola makan serta gaya hidup Rasulullah sangatlah ideal dengan irama tubuh biologis manusia. Untuk itu tidak salah apabila rasulullah SAW dikatakan sebagai teladan bagi seluruh umat manusia. Berikut tujuh pola makan dan gaya hidup sehat yang dapat kita teladani dari Rasulullah:

Pertama, Sarapan dengan segelas air dingin yang dicampur dengan madu asli.

Ketika mengawali harinya, Rasulullah SAW meminum segelas air dingin yang dicampurkan dengan madu asli untuk menu sarapan. Dilihat dari segi medis , ternyata madu berfungsi sebagai obat yang memiliki banyak manfaat.

Khasiat madu diantaranya adalah dapat mengaktifkan usus-usus, membersihkan lambung. Tak hanya itu, madu juga dipercaya dapat menyembuhkan peradangan, sembelit dan wasir.

Kedua, Konsumsi tujuh buah kurma di waktu dhuha.

Ketika waktu pagi menjelang siang atau pada saat memasuki waktu shalat dhuha, Rasulullah SAW biasanya mengkonsumsi tujuh buah kurma matang.

Rasulullah Bersabda : “Barang siapa yang mengkonsumsi tujuh buah kurma, maka Ia akan terlindungi dari segala jenis racun.”

Ketiga, Makan siang dengan roti yang dicampur cuka dan miyak zaitun.

Rasulullah SAW mengkonsumsi roti dicampur dengan cuka dan minyak zaitun untuk menu makan siangnya. Ternyata itu bermanfaat untuk mencegah kepikunan, lemah tulang, bahkan kanker, serta dapat menjaga suhu tubuh agar tetap hangat saat musim dingin.

Keempat, Makan malam dengan sayuran atau tsarid.

Untuk menu di malam hari, Rasulullah SAW memilih untuk makan sayur–sayuran. Selain sayur-Sayuran, beliau kerap kali mengkonsumsi tsarid yakni campuran daging dan roti dicampur dengan kuah air masak dan memakan buah-buahan seperti, anggur, labu air yang merupakan buah kesukaan Rasulullah dan juga susu.Ternyata, buah labu air ini memiliki fungsi untuk mencegah penyakit gula.

Kelima, Tidak langsung tidur setelah makan.

Setelah makan biasanya Rasulullah SAW tidak langsung tidur. Biasanya, beliau melaksanakan aktivitas secara ringan. maksudnya, agar makanan yang baru saja dimakan dapat dicerna dengan baik oleh lambung. Adapun aktivitas ringan yang biasa dilaksanakan oleh Rasulullah SAW adalah shalat.

Keenam, Berolahraga ringan.

Rasulullah juga menjaga kesehatannya dengan cara berolahraga. Biasanya beliau melakukan olahraga ringan seperti bermain dengan anak dan cucunya. Tidak hanya itu, beliau juga pernah lomba lari bersama istrinya Aisyah radiyallahu’anha.

Ketujuh, Tidur lebih awal dan tidak begadang.

Beliau menganjurkan kepada umatnya agar tidur lebih awal atau tidak begadang. Tujuannya adalah agar beliau bisa bangun untuk shalat tahajjud dan subuh.

Demikianlah pola hidup sehat yang dapat diteladani dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila kita mengikuti hal-hal kebaikan yang sudah dilakukan oleh Rasulullah tersebut.

Penulis : Nabila
Source : islampos.com
Share : Rumah Santri Kreatif Asy-Syifa

Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

Islam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

Berbicara tentang masa depan bangsa tidak bisa dilepaskan dari pendidikan. Begitu pula masalah pendidikan juga tidak bisa terlepas dari guru. Dalam dunia pendidikan, keberadaan peran dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan.

Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di jalur pendidikan formal, informal, maupun non formal. Oleh sebab itu, dalam setiap peningkatan kualitas pendidikan, guru tidak dapat terlepas dari berbagai hal yang berkaitan dengan eksistensi mereka.

Negara adalah pemilik otoritas yang diperlukan bagi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, termasuk penyediaan dana yang mencukupi, sarana dan prasarana yang memadai, serta SDM yang bermutu. Dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pemerintah akan bertumpu pada dua elemen sistem besar, yaitu ekonomi dan politik. Politik akan melahirkan kebijakan-kebijakan, sementara ekonomi akan melahirkan pengelolaan sumber-sumber ekonomi dan dana. Kedua fungsi ini akan saling menunjang penyelenggaraan layanan umum (public service) yang merupakan kewajiban negara bagi setiap warga negaranya yakni lapangan kesehatan, pendidikan, keamanan dan infrastruktur. Maka, keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada sistem yang diterapkan dalam negara.

Pengukuran kompetensi ala UN (termasuk UTS, UAS, dan ulangan harian) memang dapat mengetahui tingkat kemampuan siswa terhadap penguasaan materi pelajaran yang diberikan. Namun ternyata akibat dari adanya UN yang disertai pemberlakuan standar tertentu dan dijadikan penentu pokok kelulusan dan kenaikan kelas atau tingkat membuat capaian nilai menjadi tujuan. Celakanya hal itu tidak hanya menimpa siswa tapi juga para guru dan pihak sekolah. Apalagi ketika prestasi bahkan pemberian bantuan dana dan prasarana dikaitkan dengan pencapaian nilai UN. Seolah-olah UN menjadi tujuan akhir dari proses pembelajaran. Segala cara pun dilakukan tanpa mengindahkan kejujuran, moral dan nilai-nilai luhur demi nilai UN dan ulangan yang tinggi.

Padahal seharusnya pembelajaran membuat siswa menguasai pengetahuan dan keahlian sehingga menjadi kompetensi yang melekat dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Hal itu dibarengi dengan pendidikan yang diarahkan untuk meng ubah pola pikir dan perilaku siswa dan membentuknya kearah yang lebih baik. Sayangnya kurikulum yang ada belum bahkan tidak mengarah ke sana. Kurikulum yang ada lebih menekankan pada transfer pengetahuan. Tidak ada misi membentuk moral, karakter apalagi kepribadian siswa.

Pendidikan dalam sistem kapitalisme tidak ditujukan membentuk kepribadian. Pendidikan justru dijadikan penopang mesin kapitalisme dengan diarahkan untuk menyediakan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keahlian. Akibatnya kurikulum disusun lebih menekankan pada pengetahuan dan keahlian tapi kosong dari nilai-nilai agama dan moral. Pendidikan akhirnya hanya melahirkan manusia robotik, pintar dan terampil tapi tidak religius dan tak jarang culas.

Demi menjamin kebebasan maka penyelenggaraan pendidikan tidak boleh diatur secara sentralistik dan harus sebanyak mungkin bersifat otonom. Di sinilah kita bisa tahu kenapa kurikulum nasional “dibonsai” dan penentuan materi serta muatan program makin banyak diserahkan kepada pihak sekolah. Sekolah yang menentukan buku materi pengajaran yang digunakan, yang dalam prakteknya banyak terjadi perselingkuhan dengan penerbit dengan imbalan tertentu.

Otonomi yang diberikan juga mencakup pendanaan. Akibat kapitalisme, peran pendanaan oleh pemerintah harus makin berkurang dan sebaliknya pendanaan oleh masyarakat (orang tua siswa) makin besar. Sekolah berkualitas pun menjadi mahal. Akibatnya, terjadinya ‘lingkaran setan’ kemiskinan. Orang miksin tidak bisa mendapat pendidikan berkualitas. Mereka tidak bisa mengembangkan potensi dirinya dan tetap terperangkap dalam kemiskinan. Masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial-ekonomi. Hanya orang menengah ke atas yang bisa mengakses pendidikan berkualitas. Padahal sekolah seharusnya dapat menjadi pintu perbaikan taraf hidup bagi si miskin. Selain itu juga akan melanggengkan penjajahan.

Terlepas dari itu semua, apa yang menimpa dunia pendidikan akhir-akhir ini sangat membuat prihatin dan cenderung miris. Boleh dibilang guru itu bukan malaikat, mereka juga manusia yang punya sifat-sifat kemanusiaan. Juli 2010, Rahman, guru SD di Banyuwangi, harus berurusan dengan Pengadilan karena memukul muridnya yang “bandel” dengan penggaris. Kemudian Aop Saopudin, seorang guru honorer di SD Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat harus berurusan dengan hukum hanya karena mencukur rambut murid didiknya. Bahkan di tahun 2016 ini kasus yang menimpa guru datang beruntun, sebut saja guru Sambudi, seorang guru SMP Swasta di Sidoarjo, harus berurusan dengan Pengadilan Negeri Sidoarjo hanya karena dituduh melakukan kekerasan (mencubit) terhadap siswanya dengan inisial R anak anggota TNI AD.

Kasus yang sama juga menimpa Ibu Nurmayani, guru bidang studi biologi SMP Negeri 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan dibui di Rumah Tahanan Klas II Bantaeng, karena kasus yang sama (mencubit siswinya), siswa yang dia cubit adalah anak anggota Polisi. Masih dari Sulawesi Selatan, Muhammad Arsal guru Pendidikan Agama Islam SMP Negeri  3 Bantaeng, juga dituduh melakukan kekerasan terhadap anak didik disekolah. Dan yang terakhir yang bikin heboh bangsa ini, kasus guru Dasrul guru di SMKN 2 Makasar yang mendapat bogem mentah dari orang tua muridnya, hanya karena menegur muridnya yang tidak mengerjakan PR.

Semua kasus di atas adalah tamparan yang keras bagi dunia pendidikan, harusnya para pembuat kebijakanlah yang lebih merasakan sakit dari pada mereka. Luka fisik bisa segera disembuhkan dengan bantuan medis, namun bagaimana moral mereka, psikis mereka ketika harus kembali berdiri dihadapan anak didik mereka. Apa yang harus dilakukan ketika mereka harus menjumpai, anak didik yang “sulit diatur, sering melanggar tata tertib sekolah, tidak mengerjakan tugas-tugas sekolah dll”, sedangkan di atas mereka hukum dan undang-undang terus mengintai mereka.

Meskipun dari sebagian besar kasus akhirnya para guru tersebut dibebaskan karena tidak terbukti bersalah atau hukuman yang mereka berikan masih dalam taraf hukuman yang mendidik dan tidak menyakitkan. Peristiwa memprihatinkan tersebut membuat Komisi X DPR mendesak Pemerintah untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Terkait perlindungan guru sebagai tindak lanjut dari pasal 30 ayat 2 UU no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Karena hampir semua undang-undang yang digunakan oleh hukum untuk menjerat para guru itu adalah UU Perlindungan Anak.

Bagaimanapun, kita tak bisa menolak realitas, bahwa guru pun hakikatnya adalah output dari sistem pendidikan. Guru adalah warga negara yang melewati berbagai jenjang pendidikan yang menghantarkannya menjadi guru. Maka dari itu, etis bila dikatakan bahwa penyebab rendahnya kualitas guru berpulang dari Sistem Pendidikan yang gagal.

Bila Guru memiliki visi yang sejalan dengan orientasi Ideologi Kapitalisme, maka output-nya tentu selalu bisa untuk diprediksi. Guru secara berulang dibimbing untuk menelurkan sumber daya yang sama. Sumber daya manusia yang kuat dalam kognisi, handal menjadi teknisi,  berdaya saing di tengah dunia indutsri, namun tak nampak padanya kepribadian islami. Siklus ini akan berulang selama sistem pendidikan masih bertolak pada ideologi Kapitalisme.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi, pertama ideologi kebebasan atas hak asasi manusia (HAM) sudah berurat berakar dalam diri orang Indonesia, sehingga mereka yang mengadukan para guru tersebut berlindung atas nama HAM. Kedua, tidak hanya politik yang mengenal transaksional, ternyata dunia pendidikan kita sudah menjadi komoditas yang bersifat transaksional, murid membayar dan guru dibayar. Sehingga kedua masalah ini harus diselesaikan agar permasalahan-permasalahan yang menjadi turunannya bisa diminimalisir. Ini lagi, perkejaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah saat ini dengan kabinet barunya.

Dunia pendidikan yang sarat masalah saat ini hanya bisa dituntaskan dengan mencampakkan kapitalisme. Meninggalkan sistem pendidikan sekuler, yang itu berarti harus membuang jauh-jauh sistem politik demokrasi, Islam menentukan penyediaan pendidikan bermutu untuk semua rakyat sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib disediakan oleh negara secara gratis. Dasarnya karena Rasul saw menetapkan tebusan tawanan perang dari orang kafir adalah mengajari sepuluh orang dari anak-anak kaum muslim. Tebusan tawanan merupakan ghanimah yang menjadi hak seluruh kaum muslim. Diperuntukkannya ghanimah untuk menyediakan pendidikan bagi rakyat secara gratis itu menunjukkan bahwa penyediaan pendidikan oleh negara untuk rakyat adalah wajib. Ijma sahabat atas pemberian gaji kepada para pengajar atau guru dari harta baitul mal lebih menegaskan hal itu.

Guru mampu mencetak generasi berkepribadian Islam yang unggul, hal demikian akan sangat mudah bila disokong oleh peran Negara. Dalam hal ini, Negara mesti membangun sistem pendidikan yang tepat dan berangkat dari orientasi Ideologi yang shahih, yakni Islam. Dengan kata lain, Negara mesti menata sistem pendidikan yang benar benar islami. Mulai dari tujuan, hingga pelaksanaan di lapangan.

Sehingga pada akhirnya, output dari sistem pendidikan tak hanya melahirkan Guru yang sekedar siap untuk terjun mencetak anak anak didik yang  menghamba pada dunia industri. Lebih dari itu, mencetak pribadi yang siap untuk terjun dalam gelanggang kehidupan dengan menghamba pada Rabb semesta alam, Allah SWT dan memberi maslahat bagi umat manusia. [syahid/voa-islam.com]

Kiriman dari Susi Winarti, Parongpong

Mengenal Klasifikasi Ilmu dalam Islam

Mengenal Klasifikasi Ilmu dalam Islam

“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, Allah jadikan dia paham (faqih) dalam urusan agama.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Saat kecil kita telah belajar Islam di Madrasah atau TPA. Di sanalah kita belajar dasar-dasar Islam, mengenal ilmu dan wawasan. Ustadz atau Ustadzah memberikan penjelasan tentang macam-macam ilmu, melalui para Guru kita itu kita mengenal klasifikasi ilmu. Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan pembagian ilmu ini dalam buku Islam dan Sekularisme. Menurut beliau pembagian ini mengikuti tradisi Ulama Islam, klasifikasi ilmu terbagi menjadi 2 kategori yaitu Fardu ‘ain dan Fardu kifayah. Sebagaimana tubuh kita yang terdiri dari dua hal yaitu jiwa dan raga, begitupun ilmu terbagi kepada dua jenis. Yang pertama adalah hidangan dan kehidupan bagi jiwanya, dan yang lain adalah bekal untuk melengkapi diri manusia di dunia untuk mengejar tujuan-tujuan pragmatisnya untuk raganya.

Ilmu Fardu ‘ain adalah wajib dikuasai oleh setiap muslim, biasanya ia disebut ilmu agama. Ia akan membimbing kehidupan setiap muslim untuk menjadi manusia yang baik. Kitab suci Al-Quran, sunnah, syariah dan hikmah adalah unsur-unsur utama dari jenis ilmu yang pertama itu. Adapun hikmah, manusia hanya dapat memperolehnya melalui ibadah dan ketaatan kepada Allah. Hal ini bergantung pada anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kekuatan dan kemampuan spiritual yang diberikan Allah kepadanya sehingga ia dapat menerima ilmu ini.

Ia merangkumi ilmu tentang dasar-dasar Islam (Islam-Iman-Ihsan), prinsip-prinsipnya (arkan), arti dan maksudnya, serta pemahaman dan pelaksanaannya yang benar dalam kehidupan dan amalan sehari-hari. Setiap Muslim harus mempunyai ilmu tentang prasyarat itu; harus mengerti dasar-dasar Islam dan Keesaan Allah, Esensi-Nya dan Sifat-Sifat-Nya (tawhid); harus mempunyai ilmu tentang Al-Quran, Nabi Shalla Llahu ‘alayhi wasallam, sunnah  dan kehidupannya, serta mengamalkan ilmu itu yang didasarkan pada amal dan pengabdian pada Allah sehingga setiap Muslim sudah berada dalam peringkat awal ilmu tingkat pertama itu.

Jenis ilmu yang kedua (Fardu kifayah) merujuk kepada ilmu-ilmu sains (ulum) yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan dan penelitian. Ilmu ini bersifat diskursif dan deduktif dan berkaitan dengan perkara yang bernilai pragmatis. Ilmu ini wajib dikuasai oleh sebagian saja dari sekelompok kaum Muslimin. Biasanya ia disebut ilmu dunia, ia hanya mempelajari ilmu-ilmu tentang keduniaan semata.

Ilmu jenis pertama (ilmu agama, Fardu ‘ain) diberikan oleh Allah kepada manusia melalui pengungkapan langsung, sedangkan yang kedua melalui spekulasi dan usaha penyelidikan rasional dan didasarkan atas pengamatannya tentang segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra (sensible) dan dipahami oleh akal (intelligible). Yang pertama merujuk kepada ilmu tentang kebenaran objektif yang diperlukan untuk membimbing manusia, sedangkan yang kedua merujuk kepada ilmu mengenai data yang dapat ditangkap oleh pancaindra dan dipahami akal yang dipelajari (kasbi) untuk kegunaan dan pemahaman kita.

Dari sudut pandang manusia, dua jenis ilmu itu harus diperoleh melalui perbuatan secara sadar (‘amal), karena tidak ada ilmu yang berguna tanpa amal yang lahir dari ilmu tersebut. Dan tidak ada amal yang bermakna tanpa ilmu. Ilmu jenis pertama menyingkap misteri Wujud dan Eksistensi dan mengungkapkan hubungan sejati antara diri manusia dan Tuhannya; dan oleh karena bagi manusia ilmu tersebut terkait dengan tujuan utama manusia untuk mengetahui, maka dapat disimpulkan bahwa ilmu mengenai prasyarat ilmu tersebut menjadi dasar dan asas utama untuk ilmu jenis kedua. Karena ilmu yang kedua itu jika tanpa ada tuntunan dari ilmu yang pertama, maka tidak akan menuntun manusia dengan benar di dalam kehidupannya dan hanya akan membingungkan dan menjerat manusia ke dalam kancah pencarian yang tanpa akhir dan tujuan.

Seseorang yang menguasai ilmu-ilmu Fardu kifayah tetapi kurang dalam Fardu ‘ain dan sedikit ketaatan (karena kurang paham tentang agama) cenderung riskan untuk berbuat zhalim. Ia tidak bisa adil dan amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai manusia yang baik. Hal ini tentu berimbas pada kondisi kehidupan masyarakat. Banyaknya pejabat yang kurang dalam pemahaman agama yang duduk di pemerintahan membuat negara tidak lagi berpihak kepada rakyatnya. Kondisi yang timbul karena tidak adanya ilmu Fardu a’in yang membimbing pejabat tersebut menjadi manusia yang baik.

Kita juga melihat bahwa ada batas bagi manusia terhadap ilmu jenis pertama dan tertinggi itu, sementara dalam ilmu jenis kedua tidak ada batas. Sehingga selalu wujud kemungkinan pengembaraan tanpa henti yang didorong akibat penipuan intelektual dan khayalan diri di dalam keraguan dan keingintahuan dan keingintahuan yang terus menerus.

Seseorang manusia seharusnya membatasi pencarian ilmu jenis kedua sampai pada keperluan amali dan disesuaikan dengan hakikat serta kemampuannya.

Penutup
Demikian uraian pengenalan terhadap klasifikasi ilmu dalam Islam menurut al-Attas. Sebagai Muslim kita bisa memprioritaskan yang paling mendasar. Sesibuk apapun kita belajar, tidak sepatutnya kita lalai dalam mencari Ilmu Agama yang bersifat wajib, apalagi sampai tidak mencarinya lagi sama sekali.

Beruntunglah orang-orang yang merasa nikmat jika telah bergelut dengan buku dan ilmu (Fardu ‘ain). Ia menjadi salah satu manusia yang beruntung karena Allah menghendaki kebaikan padanya, sesuai hadits yang penulis cantumkan pada awal tulisan ini, “Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, Allah jadikan dia paham (faqih) dalam urusan agama.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam.

Referensi:
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam dan Sekularisme. Bandung: PIMPIN, 2010.

Sistem Terakreditasi dari Langit

ISLAM merupakan agama yang sempurna. Agama yang mengatur segala aspek kehidupan. Salah satunya dalam hal pendidikan. Pendidikan dalam Islam merupakan kebutuhan dasar sebagaimana kebutuhan terhadap makan, minum, pakaian, rumah, kesehatan, dan sebagainya. Negara wajib menjamin pendidikan yang bermutu bagi seluruh warga negara hingga perguruan tinggi dengan fasilitas sebaik mungkin.

Dalam Islam, negara wajib menyediakan pendidikan murah atau bebas biaya kepada warga negaranya, baik Muslim maupun non-Muslim, agar mereka bisa menjalankan kewajibannya atau memenuhi kebutuhan primer mereka, yaitu pendidikan. Rasulullah saw. bersabda:

Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam Islam, Sistem pendidikan didasarkan pada aqidah Islam, yang mengharuskan tujuan, kurikulum, materi dan metode yang digunakan semua merujuk pada pemikiran dan konsep yang terpancar dari aqidah Islam.

Tujuan pendidikan dalam Islam ialah untuk membentuk kepribadian islami (syakhshiyah islamiyah) setiap Muslim serta membekali dirinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan.

Secara struktural, kurikulum pendidikan dalam Islam dijabarkan ke dalam tiga komponen materi pokok:

(1) pembentukan kepribadian Islam;

(2) penguasaan tsaqafah Islam;

(3) dan penguasaan ilmu kehidupan (iptek, keahlian dan keterampilan).

Riilnya tidak akan ada pemisahan antara kampus umum dan kampus Agama Islam sebagaimana sekarang semua anak bangsa dididik menjadi intelektual faqih fiddien dan ulama sekaligus ilmuwan.

Kejayaan pendidikan Islam tidak hanya menghasilkan cendekiawan di bidang agama namun juga cendekiawan di bidang sains. Di antaranya adalah Ibnu Sina yang dikenal di kalangan ilmuwan Barat sebagai Avicenna. Karyanya yang sangat terkenal, Al-Qanun fi ath-Thibb, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The Canon of Medicine, merupakan rujukan di bidang kedokteran dunia selama berabad-abad. Tidak hanya itu, masih ada ratusan ilmuwan Muslim lainnya seperti al-Farabi, al-Battani, ar-Razi, Abu Nasr Mansur, dan sebagainya.

Keberhasilan umat Islam dalam memimpin dunia melalui kejayaan pendidikan seperti yang dipaparkan di atas tentu tidak dapat dipisahkan dari institusi yang memayunginya saat itu, yakni Khilafah Islam. Tidak mungkin lahir sejarah emas pendidikan dan keilmuan sebagaimana terpapar di atas tanpa adanya dukungan sarana dan prasarana yang disediakan oleh negara Khilafah saat itu. Karena itulah fungsi negara sesungguhnya, dalam mengadakan pendidikan bagi rakyat yaitu dalam hal pembiayaan dan penyusunan kurikulum.

Pendidikan tidak akan terlepas dari sistem ekonomi dan kebijakan politik yang diberlakukan di negara tersebut. Jika dibandingkan dengan sekarang, tentu jauh berbeda, dimana pembiayaan dari negara sangat minim bahkan terkesan terkomersialkan, serta kurikulum yang sering dilakukanpergantian terkesan coba – coba.

Semua catatan emas kejayaan pendidikan di atas semakin membuktikan bahwa kunci kejayaan umat Islam adalah penerapan syariah secara kaffah. Dimana aturannya telah terakreditasi oleh Sang pencipta alam semesta.

Elda Widya

Rumah Santri Kreatif Asy-Syifa'

Mereka yang Terlahir sebagai Pemimpin

Mereka yang Terlahir sebagai Pemimpin

Banyak peristiwa dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, empat khalifah setelah beliau, dan sejarah-sejarah umat Islam setelah mereka yang tidak hanya berhenti pada kajian sejarah. Rekam jejak mereka mengajarkan nilai. Ada kajian keilmuan yang begitu luas yang bisa dirumuskan. Terlebih dengan berkembangnya metode penelitian modern.

Kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya bisa dikaji dalam ilmu psikologi, sosiologi, leadership, politik dan hubungan internasional, bahkan kebijakan-kebijakan strategis. Di antara pelajaran menarik dari kehidupan Nabi ﷺ adalah bagaimana beliau ﷺ begitu lihai melihat potensi sahabatnya. Beliau ﷺ sangat advance dalam memahami karakter seseorang. Kemudian memberikan peranan yang tepat kepada mereka. Beliau sosok pemimpin cerdas yang mampu memimpin para leader.

Kepemimpinan Bukan Masalah Senioritas

Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya, kepemimpinan bukan masalah senioritas. Dan beliau ﷺ berhasil menransfer pemahaman ini dengan sangat baik ke para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Sehingga mereka memiliki cara pandang (paradigma) yang sama dengan Rasulullah ﷺ.

Pertama: Kepemimpinan Khalid bin al-Walid di Perang Mu’tah.

Contoh yang menarik adalah kisah diangkatnya Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu memimpin pasukan Perang Mu’tah. Peristiwa itu hanya berselang 4 bulan setelah Khalid memeluk Islam. Ketika tiga orang panglima perang yang ditunjuk Rasulullah ﷺ gugur: Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhum, panji pasukan dipegang oleh Tsabit bin Aqram radhiallahu ‘anhu. Tsabit adalah seorang sahabat senior. Ia turut serta dalam Perang Badar. Rasulullah ﷺ bersabda tentang para sahabat yang turut serta dalam pasukan Badar:

لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ، فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Mudah-mudahan Allah telah memperhatikan ahli Badr (para sahabat yang ikut perang Badar) lalu berkata, ‘Lakukan semaumu, sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu’.” (HR. Bukhari, no. 3007).

Kata Tsabit bin Aqram al-Anshary, “Wahai kaum muslimin, tunjuklah salah seorang di antara kalian (untuk jadi pemimpin)!”

“Engkau,” kata para sahabat.

Tsabit menanggapi, “Aku bukanlah orangnya”. Maka para sahabat memilih Khalid bin al-Walid.” (Ibnu Hisyam, 2009: 533).

Kemudian Tsabit bin Aqram menemui Khalid bin al-Walid. Ia berkata, “Peganglah bendera ini wahai Abu Sulaiman (kun-yah Khalid).”

“Aku tidak akan mengambilnya. Engkaulah orang yang lebih pantas untuk itu. Engkau seorang yang dituakan. Dan turut serta dalam Perang Badar,” jawab Khalid. Artinya Khalid tahu keutamaan dan ketokohan (senioritas) Tsabit. Ia menaruh respect padanya.

“Ambillah! Aku ambil bendera ini hanya untuk menyerahkannya padamu,” perintah Tsabit tegas. Khalid pun mengambil bendera tersebut dan menjadi panglima perang (Shalabi, 2007: 248).

Dari potongan kisah ini, kita melihat para sahabat Rasulullah ﷺ memahami betul bahwa kepemimpinan bukan masalah senioritas. Orang yang pantaslah yang layak memimpin. Para sahabat hilangkan ego kesukuan yang menjadi ciri bangsa Arab sebelum datangnya Islam. Dan inilah didikan Rasulullah ﷺ kepada mereka.

Kedua: Kepemimpinan Amr bin al-Ash dalam Perang Dzatus Salasil

Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu ditunjuk Rasulullah ﷺ sebagai panglima pasukan Perang Dzatus Salasil, 5 bulan setelah ia memeluk Islam. Menariknya, dalam pasukan Dzatus Salasil ini terdapat Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhuma.

Rasulullah ﷺ memanggil Amr bin al-Ash dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku ingin mengirimmu memimpin sebuah pasukan dan Allah akan memenangkanmu dan memberimu harta rampasan perang. Aku berharap dengan harapan yang baik agar engkau mendapatkan harta”.

Kemudian Amr menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak masuk Islam demi harta. Aku masuk Islam karena kecintaan terhadap Islam dan agar aku bisa bersama-sama Rasulullah ﷺ.”

Kemudian Rasulullah ﷺ memuji Amr, menyebutnya sebagai orang yang baik, “Wahai Amr, sungguh alangkah indahnya jika harta yang baik berada di tangan orang yang baik pula.” (HR. al-Bukhari dalam bab Adab, No. 299).

Suatu hari, Umar bin al-Khattab melihat Amr bin al-Ash sedang berjalan. Kemudian Umar mengatakan,

مَا يَنْبَغِي لأَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَنْ يَمْشِيَ عَلَى الأَرْضِ إِلا أَمِيرًا . .

“Tidak pantas bagi Abu Abdillah (Amr bin al-Ash) berjalan di muka bumi ini kecuali sebagai seorang pemimpin.” (Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Asakir).

Di zaman kekhalifahan Umar bin al-Khattab, ia mengangkat Amr bin al-Ash sebagai gubernur Mesir.

Kepemimpinan Bukan Masalah Knowledge (pengetahuan)

Sebagian orang mengangkat orang lain menjadi pemimpin karena gelar akademik tinggi yang disandangnya. Ada pula yang mengangkat pemimpin karena pengetahuannya yang luas tentang agama. Tanpa menimbang kapasitasnya dari sisi leadership. Yang dimaksud di sini adalah kepemimpinan dalam sebuah grup, kelompok, organisasi, dan sejenisnya. Bukan kepemimpinan agama seperti yang disebutkan Alquran:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS:As-Sajdah | Ayat: 24).

Rasulullah ﷺ membedakan antara Abu Dzar al-Ghifary dengan Amr bin al-Ash dan Khalid bin al-Walid. Padahal dari sisi ke-ulamaan tentu Abu Dzar jauh lebih unggul. Dari sisi ke-islaman, Abu Dzar lebih senior. Ia adalah orang yang pertama-tama menerima dakwah Islam yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Artinya ia memeluk Islam kurang lebih 20 tahun sebelum Khalid dan Amr. 20 tahun! Bukan waktu yang singkat.

Rasulullah ﷺ bersabda memuji Abu Dzar radhiallahu ‘anhu,

مَا أَقَلَّتْ الْغَبْرَاءُ وَلَا أَظَلَّتْ الْخَضْرَاءُ مِنْ رَجُلٍ أَصْدَقَ لَهْجَةً مِنْ أَبِي ذَرٍّ

“Bumi tak akan diinjak dan langit tak akan menaungi seorang laki-laki yang lebih benar dialeknya daripada Abu Dzar.” (HR. Ibnu Majah No.152).

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata tentang Abu Dzar,

أَبُو ذر وعاء مليء علما.

“Abu Dzar bagai sebuah wadah yang penuh dengan pengetahuan…” (Tarikh Dimasq oleh Ibnu Asakir).

Tapi Abu Dzar tidak pernah diberikan kepemimpinan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau hidup di masa Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan wafat di masa pemerintahan Utsman. Tidak pernah sama sekali jadi pemimpin.

Pernah sekali Abu Dzar menawarkan diri kepada Rasulullah ﷺ untuk menjadi pemimpin. Bukan karena ia tamak kepemimpinan. Tapi ia ingin lebih bermanfaat, menolong, dan berbagi untuk orang lain. Abu Dzar mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut, beliau menepuk pundakku seraya bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا

“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim no. 1825).

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيْفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لاَ تَأَمَّرَنَّ اثْنَينِ وَلاَ تَوَلَّيْنَ مَالَ يَتِيْمٍ

“Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (HR. Muslim no. 1826).

Rasulullah ﷺ sangat mencintai Abu Dzar. Tapi beliau memberikan pesan yang begitu jelas, jika ada dua orang, dia yang jadi pemimpin bukan engkau wahai Abu Dzar.

Pelajaran:

Pertama: Rasulullah ﷺ berada di antara para pemimpin.

Kedua: Rasulullah ﷺ sangat pandai membaca potensi para sahabatnya.

Ketiga: Orang yang berilmu agama memiliki kedudukan yang istimewa. Rasulullah tidak memberikan pujian kepada Khalid sebagaimana beliau memuji Abu Dzar, “aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku”.

Keempat: Kepemimpinan itu berat dan amanah.

Kelima: Leadership adalah bagaimana seseorang mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu mencapai tujuan bersama. Terkadang hal ini tidak berhubungan dengan pengetahuan dan tingkat pendidikan. Syaratnya dia seorang muslim kemudian modal utamanya adalah integritas (jujur dan amanah).

Keenam: Ada orang-orang yang terlahir sebagai pemimpin. Ada orang-orang yang bisa dilatih jadi pemimpin. Dan ada orang-orang yang tidak bisa dilatih jadi pemimpin walaupun memiliki mentor sekelas Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar.

Ketujuh: Banyak hal yang bisa digali dari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum.

Daftar Pustaka:
– Ahmad, Mahdi Rizqullah. 2012. Terj: Sirah Nabawiyah. Jakarta: Perisai Qur’an.
– Hisyam, Ibnu. 2009. Sirah Nabawiyah. Beirut: Dar Ibnu Hazm.
– ash-Shalaby, 2007. Ghazawatu ar-Rasul. Kairo: Muas-sasah Iqra.
– islamweb.net

SAMBUTAN PENGURUS PONDOK

Bismillahirrahmanirahim.

Assalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama dan yang paling utama, marilah kita lantunkan senandung syukur kita kepada Ilahi Rabbi, Allah Subhanahu Wata'ala, yang atas perkenan dan nikmat-Nya yang tak terhitung oleh apapun, Website Rumah Santri Kreatif Asy-Syifa dapat dirilis dengan baik.

Shalawat beriring salam tak boleh lupa kita haturkan kepada Kekasih Allah, penutup Para Rasul dan Nabi akhir Zaman , Nabi Muhammad Shallallahu  Alaihi Wasallam.

Ungkapan rasa Syukur kepada Allah azza wa jalla yang telah memberikan pertolonganNya kepada seluruh civitas Rumah Santri Kreatif Asy-Syifa’, sehingga program yang telah direncanakan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang kita harapkan bersama. Semoga program-program Rumah Santri kreatif Asy-Syifa kedepan dimudahkan dan diridhaiNya, sehingga RSK Asy-Syifa' ini dapat menjadi wadah yang melahirkan tokoh-tokoh panutan ummat, para pemimpin yang mencintai Allah dan dicintai masyarakat serta melahirkan Ulama Aamilin (Ulama yang Mengamalkan Ilmunya) yang akan mengarahkan, mengayomi, menjadi teladan, dan penggerak ummat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi Shallahu alaihi Wasallam.

Website ini adalah salah satu upaya untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas, terkhusus kaum Muslimin tentang berbagai kegiatan dan program yang dijalankan oleh Rumah Santri Kreatif Asy-Syifa’ dalam membina, mendidik, dan membangun generasi Rabbani, dengan harapan kegiatan dan program kami ini dapat diterima oleh masyarakat dan diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Tak ada gading yang tak retak, tentu kegiatan dan program pembinaan selalu memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Namun Karakter Pembinaan yang terus digali serta bersandar pada Al-Quran dan Sunnah diharapkan, rumah Santri Kreatif asy-Syifa' dapat menjadi salah satu pilihan wadah pembinaan dan pendidikan unggulan dimasa depan, InsyaAllah. Karena Kami yakin Islam merupakan sebuah sistem yang sempurna, termasuk sistem pendidikannya yang telah diwariskan dari generasi-ke generasi. Tinggal tugas kita untuk menggali lebih dalam dan mengaktualisasikannya dengan situasi dan kondisi saat ini, seiring dengan perkembangan zaman.

Dengan terus berikhtiar secara mujahadah dan memperbaiki seluruh kelemahan dengan menggalinya dari Sistem Qur'ani dan Nabawi, InsyaAllah Rumah Santri Kreatif Asy-Syifa akan menjadi salah satu mata air yang jernih, yang dapat memuaskan dahaga kaum muslimin akan keringnya Ruh Pendidikan Islam yang dibutuhkan ummat Islam di abad yang penuh dengan fitnah ini biiznillah.

Semoga informasi di dalam website ini dapat menjadi layar monitor bagi kaum muslimin akan seluruh kegiatan dan program serta perkembangan Rumah Santri Kreatif Asy-Syifa, kami berharap dukungan, saran dan kritikan yang bersifat membangun demi terciptanya suatu wadah pembinaan dan pendidikan calon-calon tokoh masyarakat, calon-calon para pemimpin dan calon-calon para ulama dari generasi terbaik bangsa ini, yang tentunya kita rindukan kehadirannya.

Akhirul Kalam,Kami ucapkan Terima Kasih kepada semua pihak yang memiliki andil dan membantu kelancaran program Rumah Santri Kreatif Asy-Syifa.

Wassalaamualaykum Warahmatullah Wabarakatuhu.

Pengasuh Pondok : Abu Azzam Asy-Syarif S.Ag.MA

 
Show Buttons
Share On Facebook
Hide Buttons